SAMARINDA, Dialektika.co — Komunitas Samarinda Book Party menggelar kegiatan berbagi takjil sekaligus buka puasa bersama (bukber) di kawasan Taman Samarendah, Samarinda, Minggu, (1/3/2026). Aksi sosial itu dirangkai dengan agenda rutin komunitas yang selama ini mengusung aktivitas literasi: membaca buku bersama, diskusi, hingga permainan (games) ringan.
Koordinator Komunitas Samarinda Book Party, Rahman, mengatakan kegiatan berbagi takjil dilakukan di sekitar Taman Samarendah, terutama di ruas Jalan Awang Long dan Jalan Basuki Rahmat.
“Untuk hari ini, alhamdulillah, kegiatannya sambil berbagi takjil sama bukber,” kata Rahman.
Menurut dia, pembagian takjil dilakukan di tiga titik agar peserta bisa menyebar dan pembagian lebih tertib. Takjil yang dibagikan berjumlah 299 paket. Dari jumlah itu, 234 paket disalurkan untuk masyarakat umum, sementara 65 paket disiapkan untuk anggota komunitas yang biasa mereka sebut bookmates. Dana kegiatan berasal dari donasi Rp 1.570.000 yang terkumpul selama enam hari.
Selain berbagi takjil, Samarinda Book Party juga menggelar bukber di Museum Samarinda. Rahman menyebut panitia telah berkoordinasi dengan pihak terkait sebelum pelaksanaan kegiatan. “Kita sudah izin juga ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup) dan pihak museum,” ujarnya.
Total peserta yang terlibat dalam rangkaian kegiatan hari itu diperkirakan sekitar 50 orang.
Rahman menuturkan agenda Ramadan tersebut sudah memasuki pelaksanaan kedua. Ia menyebut perbedaan paling terasa dibanding tahun sebelumnya terutama pada pilihan lokasi.
“Yang membedakan mungkin tempatnya. Tahun lalu di Taman Cerdas,” kata dia.
Menurut Rahman, Taman Cerdas pada pelaksanaan sebelumnya cukup padat dan ruang gerak lebih terbatas. Adapun kawasan Taman Samarendah yang berbentuk bundaran memudahkan panitia membagi titik pembagian takjil.
Kegiatan itu, kata Rahman, berlangsung satu hari dan digelar setahun sekali sebagai bagian dari agenda komunitas. Ia berharap kegiatan serupa dapat ditingkatkan pada kesempatan berikutnya baik dari sisi jumlah maupun bentuk bantuan.
“Mudah-mudahan ke depan bisa lebih banyak lagi. Bukan cuma takjil, mungkin bisa juga nasi kotak,” ujarnya.
Samarinda Book Party, menurut Rahman, telah berjalan sekitar dua tahun. Ia menilai antusiasme anak muda Samarinda menjadi modal penting agar kegiatan komunitas terus berlanjut. Ia juga mendorong kolaborasi yang lebih luas dengan komunitas lain dan para pemangku kepentingan.
“Ke depan lebih banyak berkolaborasi juga dengan komunitas dan stakeholder yang lain,” kata dia.
Di sisi lain, kegiatan komunitas semacam ini juga ditopang kerja di balik layar. Dila, Kepala Kreatif (Head of Creative) yang mengoordinasikan divisi kreatif, mengatakan ia bergabung sebagai peserta sejak Desember 2024. Adapun keterlibatannya sebagai pengurus berjalan kurang lebih setahun.
Dila menyebut salah satu tantangan utama divisinya berkaitan dengan dokumentasi kegiatan. Tidak semua anggota kreatif bisa hadir setiap agenda, sementara kebutuhan dokumentasi foto dan video tetap harus dipenuhi.
“Kendalanya lebih ke dokumentasi kegiatan. Kadang teman-teman kreatif tidak bisa datang semua,” ujar Dila.
Selain keterbatasan personel, kendala lain adalah perangkat.
“Kalau video kan perlu device yang lebih memadai. Kadang kurang di perangkat,” katanya.
Meski begitu, ia mengatakan tim lain kerap membantu saat ada anggota yang membawa perangkat lebih mendukung.
Ia menjelaskan pembagian tugas dokumentasi biasanya dilakukan menjelang hari pelaksanaan paling lambat H-1 atau pada hari H. Ada yang khusus mengambil video, ada yang fokus foto, dan ada yang merekam ulasan buku peserta. Untuk operasional acara, tim juga membagi peran lain, termasuk petugas penyambut peserta (greeter) dan pengarah alur kegiatan.
“Biasanya sudah dibagi di grup tim supaya memudahkan pas hari H,” ujarnya.
Soal harapan, Dila menilai Samarinda Book Party perlu memperluas jejaring dan memperbanyak kolaborasi agar variasi kegiatan meningkat. Selama ini, kegiatan komunitas banyak berpusat pada berbagi dan mendiskusikan buku.
“Semoga ke depannya lebih banyak mencakup relasi, dan lebih banyak kolaborasi biar kegiatannya lebih bervariasi,” katanya.
Antusiasme peserta baru juga terlihat dalam kegiatan tersebut. Eka Cahyani Tias mahasiswa Universitas Mulawarman, Program Studi Statistika mengikuti Samarinda Book Party untuk pertama kalinya. Ia mengaku tertarik karena format komunitas yang mendorong peserta saling berbagi cerita buku. Menariknya, Tias mengatakan ia bukan pembaca yang rutin.
“Saya enggak terlalu suka buku. Mungkin dengan ikut Book Party ini jadi ada gairah buat baca buku,” ujarnya.
Tias mengaku sudah mengetahui agenda bukber dan berbagi takjil dari seorang temannya yang lebih dulu bergabung. Meski baru hari pertama, ia mengatakan suasana kegiatan membuatnya belajar beradaptasi terutama ketika harus berbicara di depan orang.
“Saya jarang ngomong sama orang, jadi gugup,” kata Tias.
Ia sempat khawatir ketika menjelaskan buku yang dibacanya, takut penjelasannya tidak nyambung atau kesulitan menjawab pertanyaan peserta lain.
Di tengah agenda literasi yang dibalut kegiatan sosial Ramadan, Samarinda Book Party menaruh harapan pada partisipasi yang terus tumbuh baik dari sisi relawan, donasi, maupun kolaborasi agar kegiatan berikutnya bisa menjangkau lebih banyak warga.
