SAMARINDA,Dialektika.co – Pelaksanaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) II Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Timur yang berlangsung pada 18–19 Mei 2026 di Gedung PWNU Kaltim, Jalan Imam Bonjol No. 7 Samarinda, menjadi ruang konsolidasi sekaligus forum lahirnya sejumlah gagasan strategis untuk masa depan organisasi Nahdlatul Ulama.
Salah satu gagasan penting disampaikan Rais Syuriyah PWNU Kaltim, KH. Muhammad Ali Cholil, yang mengusulkan lahirnya tradisi baru dalam prosesi pengukuhan dan pelantikan pengurus NU di seluruh tingkatan kepengurusan. Usulan tersebut disampaikan sebagai materi tambahan dalam agenda Muskerwil II PWNU Kaltim.
KH. Muhammad Ali Cholil mengusulkan agar prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dijadikan bagian resmi dalam pelantikan pengurus Nahdlatul Ulama, mulai dari tingkat PBNU hingga ranting. Menurutnya, simbol tersebut memiliki nilai historis dan spiritual sebagai estafet amanah perjuangan para ulama pendiri NU.
Dalam konsep yang ditawarkan, prosesi diawali dengan pembacaan ayat-ayat Surah Thaha yang berkaitan dengan tongkat Nabi Musa AS, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan tongkat dan pengalungan tasbih kepada pengurus yang dilantik. Tasbih tersebut terlebih dahulu diputar sambil membaca dzikir “Ya Jabbar” dan “Ya Qahhar”.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penguatan nilai spiritual dan tanggung jawab moral dalam mengemban amanah organisasi.
“Usulan ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi Muskerwil PWNU Kaltim dan nantinya diperjuangkan dalam forum Muktamar Nahdlatul Ulama mendatang,” ujarnya dalam forum Muskerwil.
Selain tradisi pengukuhan pengurus, Rais Syuriyah PWNU Kaltim itu juga mengusulkan agar Haul Syaikhona Kholil Bangkalan dapat dilaksanakan secara serentak oleh seluruh tingkatan kepengurusan NU setiap tanggal 16 Rajab. Momentum tersebut dinilai penting sebagai penguatan spiritualitas warga nahdliyin sekaligus penghormatan kepada salah satu ulama yang memiliki hubungan erat dengan lahirnya Nahdlatul Ulama.
Tidak hanya itu, ia juga mendorong adanya gerakan nasional khataman Al-Qur’an, pembacaan shalawat, dan dzikir selama bulan Rajab, Sya’ban, hingga Ramadan yang dilakukan secara berjenjang oleh seluruh struktur NU di Indonesia.
KH. Muhammad Ali Cholil berharap berbagai usulan tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan identitas, tradisi, dan ruh perjuangan Nahdlatul Ulama di abad kedua, sekaligus membawa manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan dunia internasional.
